Header Ads Widget



Catatan Merah (Bagian 1)

Catatan Merah (Bagian I)



Catatan Merah – Mei menekan tombol komputer dengan cepat sambil merapikan jilbabnya, ia membuka satu persatu catatan akhir pekan lalu karena Pagi ini ia terlambat 2 jam.

Meski sudah sudah 1 tahun sejak Mei lulus dan bekerja sebagai marketing di perusahaan Advertising, Namun masih banyak hal luput dari kebiasaan yang Mei lakukan seperti halnya keterlambatan.

Tak lama suara gaduh menyambar dari ruang kreatif, tampaknya orang-orang di ruang itu sudah menanti Mei sejak pagi, pencipta suara gaduh itu muncul di depan bilik ruangan Mei.

“Dari mana saja kau? Dua telefon dari perusahaan yang memesan souvenir akhir pekan lalu ingin menegoisasikan harga!”

“Maaf Hendry, pagi ini Aku sangat kacau”

“Kalau begitu segera perbaiki kekacauan itu!” Sesaat setelah Hendry pergi, Mei segera membuka E-mail sambil menghubungi nomor operator

“Sial! Mengapa dia begitu menjengkelkan pagi ini!” umpat Mei sambil menggenggam gagang telefon.

“Bukan Hendry yang menjengkelkan! kau yang menjengkelkan Mei!” Sahut Tia diujung telefon mendengar umpatan Mei.

“Eh?”

“Kau kira Aku tidak mendengarmu? Sudahlah! Pagi ini Direktur membuat Hendry pusing kepalang, karena Design yang dia buat minggu lalu..”

“Aku hanya butuh kau menghubungkanku dengan perusahaan 'Alvo' ” Potong Mei karena kesal.

“Oke, Oke kenapa semua orang begitu menjengkelkan pagi ini!” Tia menutup sambungan lalu menghubungkan Mei dengan Perusahaan yang diminta.

Setelah beberapa lama berbicara dan berhasil meredam kegaduhan dengan devisi yang berkaitan, Mei menutup telefon, beranjak dari kursi dan mengambil gelas untuk minum.

Telefon operator berdering.

Mei menyambar telefon dengan kasar

"Iya Tia??"

“Ya tuhan kenapa semua orang hari ini bersikap kasar padaku? Aku hanya ingin mengingatkan siang ini kita akan ada Meeting dengan Direktur pukul 11″

“SIAL!!” Tangan Mei bergerak cepat membuka E-mail

“Ada apa Mei?”

“Agenda Hari ini ada janji Visit di perusahaan 'Bypal' pukul 10!”

“Oww hari yang menjengkelkan buatmu” tawa Tia diujung telefon

“Ya, Aku pastikan bukan hanya kau yang mengatakan itu”

Hendry muncul di bilik Mei sambil melambaikan tangan.

“Ok terima kasih Tia” Mei menutup telefon.

“Bukankah Aku meminta Tia memberitahumu!?” kesal Hendry

Mei teringat ketika memotong pembicaraan saat Tia berusaha mengatakan sesuatu tentang revisi dari Direktur pagi ini.

“Revisi m pagi ini?” ragu Mei.

“Ya! kemana saja kau??” kesal Hendry sambil menunjukan hasil revisi.

“Ada apa ini?” Suara berat dari seorang pria setengah abad memecahkan ketegangan dari belakang Hendry.

Posting Komentar

0 Komentar