Dinginnya Rasa Cinta (Bagian I)
![]() |
Dinginnya Rasa Cinta bagian 1 |
Dinginnya Rasa Cinta (Bagian 1) – Sore itu bagaikan mimpi. Kilau pantulan cahaya dari Sungai bagai berlian, hembusan angin yang begitu lembut, ditemani dengan awan putih bagai permen kapas.
Terpesona dengan suasana itu, ibu menarik lenganku yang kecil agar terus berada disampingnya. campuran rasa kesal, takut, dan khawatir kurasakan dari genggaman ibuku, kulihat matanya yang sayu, serta rambutnya yang terurai karena angin.
Suara Ponsel berdering dari saku, membuat langkah kami terhenti “Sebentar ya” lembutnya. Setelah memastikan sekeliling tidak ada orang yang berusaha menculikku, ibu menerima panggilan tersebut.
Mataku tertuju pada seorang ayah yang sedang berusaha menghibur anaknya diseberang jalan. anak itu menggenggam Es cream sambil menangis. Penjual es cream disampingnya berusaha ikut menenangkan anak yang sedang meraung-raung itu.
“Kenapa dia menangis? Bukankah dia sudah mendapatkan yang diinginkan? bahkan Ayahnya harus menerima malu hanya untuk menghiburnya!” Pikirku.
Ayah. Beruntung sekali Anak itu. hingga saat ini Aku tidak mengetahui rupa Ayahku.
Namun, disuatu kesempatan saat aku singgah di kediaman nenek, nenek menceritakan kebenaran bahwa ayahku saat ini tinggal bersama istri dan anaknya di luar negeri.
Senang rasanya mengetahui Aku masih memiliki seorang ayah, tapi Ibu menamparku saat Aku menanyakan kebenaran yang kudengar dari nenek.
“Ayo gantian!!” Perhatianku teralih saat seorang gadis berteriak kepada anak-anak lainnya.
Taman ini cukup lengkap dengan kolam pasir. Anak-anak disini gembira saat bisa membuat kastil tanpa harus jauh-jauh pergi ke pantai, dilain sisi beberapa anak berlarian saling melempar bola pasir.
Heran diriku saat memperhatikan, seorang wanita mondar-mandir sambil memperhatikan Gadis yang bermain di kolam pasir tadi.
“Laper? atau mau main sama mereka?” Ibu memasukan handphone disaku. Aku menggelengkan kepala.
“Es creamnya nggak enak, Aku juga nggak mau main sama cewek serakah” jawabku sambil menunjuk orang-orang yang aku perhatikan tadi.
“nggak boleh ngomong kayak gitu.. harusnya kamu kasihan sama kedua Anak itu” Lembut Ibuku.
“Kenapa?”
“Es krimnya enak kok, tapi bapak itu nggak memiliki cukup uang untuk membeli Es cream yang diinginkan anak itu.."
Aku tercengang. jadi Pria itu memaksa Anaknya sendiri memakan Es krim yang tidak diinginkan!
“Sedangkan gadis itu.. Mama mau nangis rasanya..” Ibu memelukku dengan erat dengan suara yang cukup berat.
“Wanita yang lagi mondar-mandir itu.. ingin meninggalkan Anaknya disana.. tapi masih ragu..”
Aku menahan nafas mendengar apa yang diucapkan oleh Ibuku. Gadis itu akan ditinggalkan? Bagaimana bisa wanita itu melakukannya? apa yang membuat dia ingin melakukan hal semacam itu!?
“Ibu mau ngobrol sama mamanya, gimana kalau kamu nememin cewek itu main?” Ibu sambil berlari kecil menghampiri Wanita itu.
Apa yang membuat sore ini begitu Gelap? langit? matahari yang tenggelam? atau Dinginnya rasa cinta?
“Hei mau main nggak sama aku?” Gadis itu menyodorkan sekop dan sebuah ember kepadaku sambil tersenyum. ia tidak menyadari sebuah kenyataan pahit yang bisa saja ia terima sore itu.




0 Komentar