Header Ads Widget



Catatan Merah (Bagian 3)

 

Catatan Merah (Bagian III)




Catatan Merah Bagian 3 – Pagi ini semua terasa begitu sempurna bagi Mei, jalanan sepi, ia tiba di kantor tepat waktu, seluruh pekerjaan dan janji dengan klien sudah terpenuhi, ia berniat menyapa seisi kantor dengan ceria, tidak sampai ia menemukan amplop yang diselipkan didalam lacinya. 


Tidak biasanya ia mendapatkan suatu seperti ini, dengan cepat ia menarik amplop itu. Tidak ada nama pengirimnya gumam Mei sendiri. Lalu membuka amplop itu, di dalamnya terdapat sebuh benda berbentuk persegi yang cukup tebal, dan dibungkus asal-asalan dengan koran, ada sebuah pesan yang tertulis disitu.

Jangan kira kamu bisa seperti ini terus dengannya . Mei tertawa kecil, mungkin ini ulah jail rekan-rekannya. Namun tawa itu hilang ketika ia membuka lapisan koran tersebut dan mendapati cetakan foto yang cukup banyak di dalamnya.

Foto ketika Mei makan berdua dengan Hendry semalam, foto saat mereka berbicara dengan Direktur kemarin pagi, foto ketika mereka bercumbu di ruangan desain. dan foto ketika Hendry sedang duduk berdua di seberang trotoar jalan, dalam foto itu Hendry tersenyum kepada Mei yang berada disampingnya, dan di dalam foto itu wajah mei tampak rusak oleh sayatan silet.

"Hei Mei! apa yang sedang kamu lakukan?" dengan cepat Mei masukan foto-foto itu di dalam sakunya.

"Lina! harusnya kamu bilang dong kalau sudah datang! aku kan kaget!" Mei berusaha menghapus kebingungannya.

"Aku baru saja dari ruangan Hendry mengajukan sebuah desain, ada apa dengan wajahmu?"

"Aku baik-baik saja, hanya bingung dimana aku meletakkan memo minggu ini" Malu karena tidak dapat menyembunyikan rasa takutnya, Mei buru-buru memeriksa dan membuka dokumen yang ada di mejanya sebagai alasan.

"Pagi ini direktur memanggilku, ia menanyakan beberapa pertanyaan" pelan Lina sambil membantu menata dokumen-dokumen yang berserakan.

"Lalu?"

"Entahlah, ia bertanya padaku tentang hubunganmu dengan Hendry, aku baru tau kalau kalian pacaran, maksudku.. yaa.. aku tau kamu satu-satunya orang di kantor ini yang bisa bekerjasama dengannya, tapi.."

Mei menahan nafas. Apakah foto-foto ini tersebar dipenjuru kantor? Selama ini Mei selalu memastikan keadaan sekitar sebelum menemui Hendry di ruangannya. Siapa yang mengambil foto-foto itu? apa masalah Mei sehingga harus berhadapan dengan orang ini? kenapa hubungan mereka merembet ke meja yang lebih atas? Kalau memang benar begitu, ia sedang dalam masalah besar saat ini, seharusnya tidak ada yang peduli dengannya saat ini, selama ini ia hanya sibuk dengan pekerjaan dan kuliahnya, tidak ada yang berusaha mendekati hidupnya untuk hal-hal yang tidak penting, apalagi sesuatu seperti ini.

"Yahh aku tidak masalah sih kalau itu benar, tapi aku terkejut saat mengetahui semua itu, mungkin direktur akan memanggilmu setelah makan siang ini" lanjut Lina.

"A..apa ada orang lain yang tau tentang masalah ini?" Mei menatap Lina dalam-dalam

"Setauku tidak, tenang, aku tidak akan membiarkan ini menjadi gosip seisi kantor, tapi kamu harus jujur dulu.."

Mei menganguk dan menghentikan tangannya yang dari tadi sibuk.

"Kamu beneran pacaran sama Hendry?" senyum Lina begitu lebar.

Mei hanya menghela nafas dengan berat dan menganguk.



Pukul satu siang, setelah memastikan tidak ada seorangpun di lantai dua, Mei membuka pintu ruangan Hendry dan mendapati Hendy masih sibuk dengan komputernya.

"Kita harus bicara"

"Tidak biasanya kamu seperti ini? apa karena kata-kataku semalam?" 

Tanpa basa-basi Mei meletakkan amplop itu di atas keyboard Hendry, Hendry membuka isi amplop itu dan mengamati foto-foto itu dengan seksama.

"Kamu tau siapa yang melakukan ini?"

"Tentu saja tidak, tapi foto-foto ini bagus" tawa Hendry.

"Aku serius Hendry!" mata Mei mulai basah.

Hendry yang melihat Mei yang ketakutan seperti itu bangkit dari kursi dan mulai merangkul pundak gadis itu, membiarkan Mei tenggelam lalu memeluknya.

"Aku tidak tau, sungguh, kalaupun sampai terjadi sesuatu padamu, aku yang akan mundur"


Bukannya senang mendengar jawaban itu, Mei kesal karena itu keputusan yang sangat egois.


"Tidak ada yang peduli padaku sebelum aku menjadi milikmu" Mei mendorong Hendy dan berlalu.

Setelah memastikan tidak ada yang melihat mereka berdua, Mei segera memasuki ruangannya dan menutup pintu. 

Posting Komentar

0 Komentar