Catatan Merah (Bagian II)
Catatan Merah Bagian 2 – Pria itu maju selangkah sambil mengamati Mei dan Hendry yang tertangkap basah sedang berdebat. “Kenapa dengan kalian berdua?”
Pria itu adalah Kepala Kantor. Atau biasa disebut Direktur utama yang juga merangkap sebagai HRD di tempat Mei bekerja. parasnya terbilang tampan di umurnya yang sudah menginjak setengah abad, namun pria itu masih aktif dalam mengatur segala permasalahan di kantor, karena ia sendiri yang menghandle pekerjaan HRD.
“Bukan apa-apa Pak” Pelan Hendry.
“Hendry! kamu siapkan Desain yang saya minta revisi barusan untuk meeting Hari ini! 15 menit lagi kita meeting!” bentak Pria itu.
“Tapi Pak” sahut Mei dan Hendry bersamaan.
“APA LAGI?” Pak Kepala naik pitam.
“Sebenarnya, saya akan pergi untuk memenuhi janji dengan klien..” pelan Mei.
“Dan juga, Desain yang kemarin sudah final.. Jadi sebaiknya bapak tidak perlu lagi merubah negoisasi dengan klien kita..” lanjut Hendry
“TIDAK BISA SEPERTI ITU! KITA HARUS TERUS PUSH HARGA SUPAYA SAYA TIDAK RUGI! KLIEN ITU TEMAN SAYA! MANA MUNGKIN SAYA MEMBERIKAN DESAIN MURAHAN KEPADA DIA????” bentak pria itu.
Dengan cepat Mei memberikan scan surat pemenuhan pembayaran “Maaf pak, tadi saya sudah menanyakan kembali untuk revisi yang kita berikan, namun pihak klien tidak mau ada revisi lagi dan segera kita kerjakan..”
“Artinya hari ini kita tidak perlu meeting untuk membahas revisi yang bapak minta” lanjut Hendry.
Pak Kepala mengenakan kaca mata dan membaca angka-angka dengan seksama. “Oke, ini masuk.. oke kalau begitu, kamu silahkan berangkat visit”
Hendry dan Mei duduk tepat dibalik jendela sebuah rumah makan, matahari meninggalkan langit, lampu jalan, dan kemacetan terlihat begitu rumit diluar sana. Mei menghela nafas, malam ini ia tidak mengikuti kelas, dan memilih menenggelamkan pikiran di depan hidangan yang masih hangat.
“Jika kau terus-terusan melamun, jangan harap pangsit itu masih ada di ujung mangkukmu” tawa Hendry membuat Mei tersadar.
Mei mengaduk-ngaduk gelas sambil mengingat bagaimana ia terjebak dalam situasi yang ia hadapi saat ini.. Setengah tahun yang lalu ia mendaftar di perusahaan ini dengan begitu semangat, sulit sekali baginya menghadapi klien karena Mei kurang pengalaman terlebih ia hanya lulusan SMK..
Disitulah Hendry, teman sekantornya yang hanya berbeda ruangan membantunya, Hendry juga melamar diwaktu yang sama dengan Mei, namun kemampuan dan sifatnya bertepuk sebelah tangan dengan Mei, ia pintar, namun sifatnya yang kasar membuat rekan-rekan lainnya tidak begitu menyukai Hendry.
Hanya dengan Mei ia bisa berubah, dengan kemampuan Hendry dan keuletan Mei, mereka mampu menyelesaikan berbagai macam masalah di kantor itu. Namun itu juga yang membuat Mei ragu dengan situasinya.
Catatan merah.
Sebuah catatan merah di hatinya, bahwa ia menyukai Hendry dan mulai bemesraan dibelakang kantor.
“Hei kau mendengarkanku?” Hendry berusaha menyadarkan Mei.
“Maaf, hari ini tidak begitu baik untukku.. kau mau bilang apa barusan?” Mei berusaha membuyarkan lamunannya.
“Bukan apa-apa.. aku hanya ingin sedikit menghiburmu, tapi sepertinya itu tidak berjalan begitu baik padamu” Hendry mendorong gelas di depannya.
“Maaf.. aku tidak bermaksud untuk..”
“Tidak apa.. mungkin selama ini aku yang asik sendiri tanpa memikirkan keadaanmu.. dan hubungan kita..”
“Kita bisa memperbaiki masalah ini”
Hendry mengambil tasnya dan meletakkan uang di meja, lalu beranjak.
“Aku mengharapkan itu padamu..”




0 Komentar