Header Ads Widget



Dinginnya Rasa Cinta (Bagian 2)

 

Dinginnya Rasa Cinta (Bagian II)



Dinginnya Rasa Cinta (Bagian 2) – Aku terbiasa tidur saat sore menjelang malam, karena di waktu-waktu itulah Ibu mulai sibuk dengan pekerjaannya.

Malam itu aku terbangun, masih mendengar suara keyboard dari ruang tengah, aku menengok, Ibu masih sibuk dengan pekerjaannya. Tidak jarang aku terbangun hanya untuk ke kamar mandi seperti ini. 

"Laper?" Sahut ibu saat menyadari keberadaanku.

Aku duduk disamping ibu dan mulai tidur dalam pelukannya, Ibu melanjutkan pekerjaannya sambil mengelus kepalaku. Mataku mulai terasa berat, aku akan terbangun di atas kasur seperti pagi lainnya, dan Ibu sudah ada di dapur untuk membuat sarapan sebelum mengantarku sekolah

Tapi malam ini lain.

Aku terbangun lagi, menoleh sekeliling masih di ruang tengah, Ibu tidak ada, aku merasa takut, tapi memberanikan diri untuk mencari di dapur dan kamar mandi. Ibu tidak ada. Aku menengok jam dinding, masih pukul 8 malam, mungkin ibu sedang pergi ke minimarket pikirku.

Suara telfon berdering, aku belum pernah menerima telfon seperti ini, aku memutuskan mengangkat telfon itu, mungkin nenek ingin mencari ibu karena kami jarang mampir ke rumah nenek setelah kejadian itu.

"Hallo?"

"Serly kita harus bicara" Seorang pria tampak serius di ujung telfon.

"Ma..maaf.. Ibu nggak ada di rumah.. mau titip pesan?"

Sesaat tidak ada jawaban dari pria itu.

"Adek.. namanya siapa?" suara pria itu berubah.

"Candra"

"Candra.. ini papa.. "

Aku bingung dan takut. Aku tidak tau siapa dan kenapa. Pintu depan terbuka, ibu terkejut melihatku menerima telfon. dengan cepat ia menyambar telfon itu.

"Candra, ini siapa?" bisiknya..

Aku hanya menggeleng. mataku berair. 

"Hallo?" Ibu terlihat bingung. Namun raut wajahnya berubah saat mendengar suara di ujung telfon itu.

"Jangan menghubungiku lagi.. apa? anakmu? KAMU BERCANDA?? DIA ANAKKU! JANGAN MENGHUBUNGIKU LAGI!" Ibu mencabut kabel yang terhubung dengan telfon lalu membanting telfon itu tepat di pintu masuk.

Dengan nafas yang tersenggal-senggal Ibu menuju ruang tengah lalu duduk di meja tengahnya tidak menghiraukanku.

Malam itu kuputuskan untuk segera masuk kamar, menyelimuti tubuhku dengan bantal, berharap apa yang kulihat malam ini segera hilang dari benakku.

Posting Komentar

0 Komentar